Langsung ke isi

Ketidakkonsistenan Dalam Menulis

Mei 5, 2012

Pernah tidak, anda dikomentari soal cara anda menulis? Pernah? Setiap orang yang bekerja di bidang kepenulisan. Bagaimana dengan Komentator tulisan itu sendiri?

Saya mengamati beberapa grup penulisan, karena tanpa diundang, sudah masuk dengan sendirinya. Ada orang yang bilang (anggota tersebut) kalau tulisan harus konsisten. Dia mencontohkan, apabila, anda menulis anda, seharusnya ada Anda semua di tulisan anda. Bukan menjadi kamu, kau, dsb. Itu contoh.

Tapi setelah saya membaca bukunya sendiri, saya menemukan ketidakkonsistennya. Di awal mengatakan Anda, dalam satu kalimat ada Kamu. Terulang beberapa kali.

Bahkan saya juga menemukan, huruf yang tidak semestinya doble. Tanda baca yang tidak seharusnya berdampingan, dsb.

Pertanyaan kedua, kalau ketidakkonsistenan penulisan itu muncul dalam buku yang tercetak? Bagimana letak fungsi editor bahkan proof reader yang katanya mengecek ulang naskah yang akan terbit?

Saya jadi makin menyimpulkan, sangat mudah seseorang mengkritik dan menilai, bahkan memberikan nasihat kepada orang lain. Tapi apakah sudah benar, si pemberi contoh itu? Apakah dia selalu bisa menulis secara konsisten?

*tulisanperenungandirisendiri

Tanpa Sepengetahuanmu Disini

April 28, 2012

Hei, siapa kamu? Duduk sendirian disana. Sesekali menoleh ke kanan, lalu kekiri. Kamu juga begitu asyik dengan kantong kentang goreng. Sepertinya lama sekali kamu menikmati kentang goreng. Kamu nampak menikmati satu demi satu potongan kentang goreng itu. Ah, jadi ingin minta satu saja.

Kamu nampak cuek sekali. Sepertinya tidak menyadari keberadaanku disini. Ya, aku yang memandang dan mengamatimu dari sini. Jarak kurang lebih 5 meter ini, cukup mencermati detil wajahmu yang manis. Ah, dengan rambut sebahu dan berponi seperti itu menjadi imut.

Hore, kamu memandangku. Akhirnya. Aku tersenyum, dan… ah kenapa kamu membuang muka? Apakah aku tak terlihat menarik? Meski begitu, aku masih saja menatapmu dengan senyuman yang mmengembang.

Ya, tak masalah. Bagiku tak masalah. Dan… Kamu memandangku lagi. Lihat, senyumku masih tersungging, bukan?

Aku melihat jam di tanganku. Rasanya terlalu lama, aku terpaku di tempat dudukku. Seharusnya aku mengajaknya berkenalan. Sebelum terlambat. Aku ingin mengenalnya lebih jauh.

Wah, kamu menyambut niatku. Kalau begitu, kita sehati. Kamu juga berdiri dari tempat dudukmu. Tapi… Bukan ke arahku. Tepatnya ke arah kereta yang baru datang. Sebenarnya aku ingin sekali mengikutimu. Hanya saja kereta ke Bandung, tinggal 15 menit kedatangannya. Yang aku tahu, kamu menaiki kereta ke Solo. Kelak, kita akan bertemu. Aku percaya itu.

Punggungmu masih terlihat dari sini. Berlari bersama dengan penumpang lainnya. Semoga kamu mendapatkan tempat duduk. Dan… Mata kita saling bertemu. Kamu menatapku saat kulambaikan tangan dari sini. Bingung itu terpancar dari sorot mata milikmu.

Pintu menutup dan…. Kereta pun bergerak menjauh dari pandanganku. Semoga saja, kelak kita bisa bertemu. Kelak, aku percaya itu.

Hak Cipta Ika Mitayani

Sabtu 28 April 2012
20.50 WIB

Bukan kisah nyata ya ;)

Kamu Lelaki Tanpa Nama

April 28, 2012

Pernahkah kamu melihat bulan di malamm hari, dari tempatmu berada? Kalau pun iya, taukah kamu, aku selalu memandang bulan itu. Berharap, kamu juga melihatnya.

Mungkin kamu tak teringat padaku. Tak apa. Aku tak mau kamu mengingatku. Biar aku saja yang begitu.

Aku selalu mengingatmu sejak pertemuan tak sengaja di stasiun kereta Tugu Jogja. Kamu yang sedang menunggu kereta, atau jemputan, duduk berhadapan denganku. Ya, kamu duduk di hadapanku. Kamu yang terbalut jaket sport, dengan dua tas kecil. Sangat cocok sekali dengan tubuh yang tinggi dan kurus. Aku lantas teringat artis Korea, Hyun Bin. Berlebihan mungkin?

Tidak. Aku tak berlebihan. Senyummu mengembang saat bersitatap denganku. Aku lantas membuang muka. Ya, aku malu terlihat sedang menatapmu.

Kamu, tetap tersenyum ke arahku, saat aku menatapmu kembali. Ah, malu benar. Ingin, melihatnya diam-diam, tapi selalu saja dia menangkap basah perbuatanku. Aku memberikan senyuman balasan.

Tak berapa lama, kamu pun berdiri. Berbarengan dengan kereta Prameks menuju Solo datang. Aku pun segera berdiri dari tempatku duduk. Melangkah menjauhinya juga. Aku setengah berlari ke arah kereta, mencari tempat duduk.

Hap, aku mendapat tempat duduk dekat pintu. Dari atas aku bisa melihatnya melambaikan tangan ke arahku. Aku, memberinya senyuman. Pintu kereta menutup, dan kamu, memegang kepalamu dengan kedua tanganmu. Tampak kamu menyesal.

Ah kamu, siapa pun namamu. Jujur, aku ingin sekali melihatmu sekali lagi. Tepatnya berbicara…..

Hak Cipta Ika Mitayani
Sabtu 28 April 2012
19.45 WIB
Bukan Kisah Nyata ya :)

Tak Akan Pernah Menemuimu

April 28, 2012

Aku mendengar dari teman-teman yang mengenal kita, aku dan kamu. Mereka bilang kamu menungguku di taman itu. Benarkah itu? Benarkah, kamu menungguku disana? Di sebuah kursi panjang dari besi, berwarna putih. Apakah benar, kamu menunggu kedatanganku? Kamu, menungguku penuh keyakinan, setiap malam. Kamu percaya itu? Percaya bahwa aku akan datang.

Aku? Tentu tidak. Aku tak akan pernah datang menemuimu lagi. Entah untuk bercerita bahkan sekedar menyandarkan kepala ke bahumu. Aku tak akan melakukan itu lagi.

Apakah kamu tak mengingat kedatanganmu saat pernikahanku itu? Apa kamu tak mempercayai itu? Tak percaya bahwa aku telah menikah?

Aku ingin mengatakan kepadamu, mungkin untuk kesekian kalinya. Aku tak akan kembali menemuimu. Bahkan tak akan pernah lagi kamu mendengar suaraku, bahkan cerita yang kamu rindukan itu.

Aku ingin menegaskan, bahwa kata itu sudah tak kubutuhkan lagi. Kata yang kamu kirim melalui surat, yang datang setelah pernikahanku. Terlambat. Terlambat semuanya. Waktu tak bisa diputar kembali. Kekasihku ini terbaik, jauh lebih baik darimu. Jadi, jangan pernah menungguku, menemuimu di taman itu lagi.

*ini prosa bukan kisah nyata ya :D

Hak Cipta Ika Mitayani 28 April 2012.

14.50 WIB

Tak Semua PNS BRENGSEK

April 12, 2012

Mamaku adalah seorang PNS, beliau selalu tepat waktu sampai kantor, jam 6 pagi beliau berangkat. Pulang saat jam pulang. Bahkan saat rapat, pulang sore pun beliau lakukan. Terkadang jadwal mengajar mahasiswa kedokteran dan perawat yang praktek di Rumah Sakit pun beliau lakukan. Jadi tak pernah absen. Beliau tak pernah membolos bahkan jatah cuti sering tidak diambil.

Beliau saat ditugaskan oleh kantornya, tidak pernah melewatkannya dengan berakhir berbelanja atau apa pun itu. Jadi layak dong kalau beliau juga diberi liburan oleh kantornya? Seimbang dengan kredibilitas yang beliau jaga selama ini.

Beliau pernah dikasih uang oleh orang, selalu beliau tolak dengan halus. Kata mama, saya membantu orang, ikhlas, kepada tetangga yang skarang perekonomiannya naik karena itu mama mempromosikannya ke teman2nya. Mama mempromosikan, karena orang itu juga etos kerjanya juga bagus. Orang itu memiliki keahlian memperbaiki alat-alat seperti AC,lemari es dan jujur.
Mama bukan orang yang mudah merekomendasikan orang ke teman-temannya.

Itu hanya bbrp saja kebaikan mama. Jadi, tidak semua PNS itu BRENGSEK!!!! Banyak kok yg berdedikasi tinggi. Dan, Mama adalah salah satunya…

Serunya Iklan Mobil Yaris

Maret 23, 2012

Sudah pernah melihat iklan mobil Yaris? Aku? Sering banget. Saking seringnya, aku jadi suka. Apalagi mobilnya berwarna putih. Ya, aku juga ga tahu, kenapa akhir-akhir ini baru sadar banyak aksesoris dll berwarna putih. Bahkan, aku lebih pede saat menggunakan sepatu, sandal berwarna putih.

Tapi kalau diperhatikan detil, ada pesan yang menarik. Mungkin karena ada beberapa kecelakaan dramatis tahun ini, membuat tim kreatif iklan Yaris membidik sesuatu. Apa itu? Meskipun melaju cepat, Yaris menjamin keselamatan pengemudi dan penumpang. Itu terlihat dengan adegan terakhir iklan. Saat mobil ada yang berhenti, Yaris masih bisa dikendalikan, dengan berhenti tepat dan cepat.

Iklan ini menurutku cerdas, tak melulu perfoma yang diunggulkan, tapi sisi fun, keselamatan juga ada.

Kemungkinan iklan yang begitu rajin di tivi, dan pesan yang diusungnya, bisa makin melejitkan penjualan tiap unit Yaris. Aku aja juga pengen punya Yaris :p

Stok Buku Lama Masih Hampir 20 Juta

Maret 20, 2012

Terkadang kalau kita ga data ulang semua stok buku. Kita suka mengira, kalau buku hanya seberapa, padahal kalau di akumulasi bisa membuat shock seperti sekarang. Gimana cara menghabiskan stok kalau begini?

Akumulasi buku juga mulai dari orderan beberapa tahun yang lalu. Tidak semua buku laku. Tiap buku seakan memiliki takdir, kapan dia akan dibeli pemiliknya.
Memang bisnis yang butuh kesabaran.

Buku selalu datang yang baru,
buku baru order pun, belum tentu laku setelah order, bisa beberapa bulan kemudian. Itu lah jualan buku. Maka menumpuklah buku lama dengan buku baru yang menunggu dibeli.

Tapi bagaimana lagi? Tugas sekarang adalah menghabiskan semuanya sekarang. Semangat mi.